teori penyesalan minimal
cara mengambil keputusan yang paling sedikit risikonya
Pernahkah kita berdiri lama di depan menu restoran, menimbang-nimbang antara memesan menu baru yang terlihat menarik atau kembali memesan nasi goreng yang sudah pasti enak? Saat akhirnya kita memilih menu baru dan ternyata rasanya tidak karuan, ada rasa sesak kecil di dada. Kita menyesal.
Itu baru urusan makanan. Sekarang, mari kita bayangkan skala yang lebih besar. Pernahkah teman-teman terjaga jam dua pagi, menatap langit-langit kamar, dan berdebat dengan diri sendiri soal jalan hidup? Misalnya, memilih antara resign dari pekerjaan yang aman demi merintis mimpi lama, atau tetap bertahan tapi batin perlahan layu. Atau mungkin, memilih antara menyatakan perasaan kepada seseorang, atau memendamnya selamanya demi menjaga pertemanan.
Memilih itu melelahkan. Mengapa? Karena setiap pilihan membawa bayang-bayang ketakutan tergelap umat manusia: ketakutan akan salah langkah. Kita begitu takut pada sebuah emosi yang bernama penyesalan.
Secara evolusioner, wajar kalau kita membenci keputusan yang berisiko. Otak kita didesain untuk bertahan hidup, bukan untuk mengejar kebahagiaan maksimal.
Di dalam kepala kita, ada area bernama anterior cingulate cortex. Bagian ini akan langsung menyala seperti alarm kebakaran saat kita dihadapkan pada ketidakpastian. Bagi nenek moyang kita di zaman purba, mengambil keputusan yang salah—seperti memilih jalur berburu yang salah—bisa berujung pada kematian. Jadi, wajar jika sampai hari ini otak kita selalu meneriakkan kata "cari aman!".
Namun, psikologi modern menemukan sebuah paradoks yang menarik tentang penyesalan. Penelitian dari psikolog Thomas Gilovich menunjukkan bahwa ada dua jenis penyesalan manusia: penyesalan karena bertindak (regret of action) dan penyesalan karena tidak bertindak (regret of inaction).
Dalam jangka pendek, kita memang lebih menyesali hal-hal bodoh yang kita lakukan. Tapi coba tebak apa yang terjadi dalam jangka panjang? Rasa sesal itu berbalik 180 derajat. Saat manusia mengingat kembali hidupnya dalam rentang belasan atau puluhan tahun, penyesalan terbesar yang menghantui mereka justru adalah hal-hal yang tidak mereka lakukan. Peluang yang dilewatkan. Kata-kata yang tidak terucap. Risiko yang tidak berani diambil. Pertanyaannya sekarang, adakah cara untuk meretas kelemahan otak ini?
Mari kita mundur sejenak ke tahun 1994. Ada seorang pria berusia 30 tahun. Karirnya di Wall Street sedang meroket dan gajinya fantastis. Hidupnya sudah masuk kategori "sangat aman".
Tapi, pria ini mengamati sebuah fenomena baru bernama internet yang tumbuh ribuan persen per tahun. Ia punya ide gila: membuat toko buku online. Ia lalu menceritakan ide itu kepada bosnya sambil berjalan-jalan di Central Park, New York. Bosnya mendengarkan dengan sabar, lalu berkata, "Itu ide yang sangat bagus, tapi ide itu akan jauh lebih bagus kalau dilakukan oleh orang yang belum punya pekerjaan sebaik dirimu."
Pria ini dihadapkan pada persimpangan besar. Kalau ia mundur dari pekerjaannya dan perusahaannya gagal, ia akan terlihat seperti orang bodoh yang membuang karir emasnya. Secara logika finansial dan kalkulasi risiko biasa, bertahan adalah pilihan yang paling masuk akal.
Namun, pria ini tidak menggunakan kalkulasi biasa. Ia menggunakan sebuah perangkat mental yang sangat presisi. Sebuah cara berpikir yang tidak peduli pada rasa takut hari ini, melainkan fokus pada apa yang akan terjadi puluhan tahun ke depan. Trik ini bekerja bagaikan mesin waktu psikologis.
Pria itu adalah Jeff Bezos, bertahun-tahun sebelum ia mendirikan Amazon. Dan perangkat mental yang ia gunakan dikenal sebagai Regret Minimization Framework, atau teori penyesalan minimal.
Aturannya sederhana namun menampar: proyeksikan diri kita ke usia 80 tahun. Bayangkan kita sedang duduk di kursi goyang, memutar kembali memori hidup kita. Lalu tanyakan pada diri sendiri, "Di usia 80 tahun nanti, apakah saya akan menyesal jika tidak mencoba hal ini?"
Bagi Bezos, jawabannya sangat jelas. Di usia 80 tahun, ia tahu ia tidak akan menyesal pernah mencoba bisnis internet lalu gagal. Tapi ia tahu seratus persen, ia akan dihantui rasa penasaran seumur hidup jika ia bahkan tidak pernah mencobanya.
Mengapa kerangka berpikir ini secara saintifik sangat ampuh? Jawabannya ada pada ilmu saraf (neuroscience). Otak manusia punya satu cacat logika yang disebut temporal discounting. Kita cenderung menilai rasa nyaman hari ini jauh lebih berharga daripada hasil di masa depan. Otak kita kesulitan merasakan empati terhadap diri kita sendiri di masa depan.
Nah, Regret Minimization Framework memaksa otak kita melakukan apa yang disebut episodic future thinking. Kita dipaksa memindahkan sudut pandang kita dari ego hari ini (yang dikuasai rasa takut dari amygdala), menuju kebijaksanaan masa tua (yang diproses oleh prefrontal cortex). Dengan membayangkan diri kita di usia 80 tahun, kita mematikan alarm kepanikan jangka pendek, dan menghidupkan rasionalitas jangka panjang. Kita menyadari bahwa rasa malu karena gagal ternyata cuma kerikil kecil dibandingkan jurang penyesalan akibat tidak pernah mencoba.
Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang mencari jalan yang sama sekali tanpa rasa sakit. Hidup adalah tentang memilih rasa sakit mana yang paling sepadan.
Saat kita, teman-teman, sedang kebingungan mengambil keputusan—entah itu urusan karir, asmara, atau sekadar proyek kecil yang terus tertunda—berhentilah membuat daftar pro dan kontra yang kaku. Daftar itu biasanya hanya berisi ketakutan-ketakutan hari ini.
Sebagai gantinya, pejamkan mata. Tarik napas panjang. Panggil versi diri kita yang sudah berusia 80 tahun. Kakek atau nenek berwajah keriput itu sudah melihat semuanya. Mereka tidak peduli pada gaji bulan depan, gengsi di depan tetangga, atau rasa malu saat presentasi gagal. Mereka cuma peduli pada satu hal: apakah kita sudah hidup dengan keberanian penuh?
Ambillah keputusan yang paling sedikit menyisakan kata "seandainya". Karena di ujung garis waktu nanti, kita tidak akan dihukum oleh kegagalan kita. Kita hanya akan ditagih pertanggungjawaban atas keberanian yang tidak pernah kita gunakan. Mari ambil keputusan itu hari ini, agar diri kita di masa depan bisa tersenyum lega.